Analisis Unsur Intrinsik Cerpen “One Summer Night” karya Ambrose Bierce
1. Alur Cerita atau plot
Sebuah cerpen yang berjudul “One Summer Night” karya Ambrose Bierce merupakan cerita yang sangat menarik untuk dinikmati, terutama bagi para pembaca yang senang dengan cerita yang horor. Unsur alur cerita (plot) pada ceritanya menimbulkan efek dramatik bagi para pembacanya. Unsur alur cerita (plot) yang digambarkan oleh pengarang melalui kronologis yang terjadi pada cerita tersebut sangat tergambar sangat jelas dan tersusun dengan alur ceritanya.
Pada cerita “One Summer tight” pengarang menggunakan alur lurus (progresif) karena pristiwa yang terjadi pada awal cerita terus berkaitan hingga hingga akhir cerita. Adapun unsur yang menggambarkan kaitan tiap alur atau plot dari cerita tersebut, misalnya tersirat pada paragraf ketiga hingga paragraf ketujuh:
“It was a dark summer night, shot through with infrequent shimmers of lightning silently firing a cloud lying low in the west and portending a storm. It was not a night in which any credible witness was likely to be straying about a cemetery, so the three men who were there, digging into the grave of Henry Armstrong, felt reasonably secure. . At that instant the air sprang to flame, a cracking shock of thunder shook the stunned world and Henry Armstrong tranquilly sat up. With inarticulate cries the men fled in terror, each in a different direction. In the grey of the morning the two students, pallid and haggard from anxiety and with the terror of their adventure still beating tumultuously in their blood, met at the medical college”(Bierce, 1893: 2) .Pada tiap paragraf tersebut tergambar bahwa kronologisny tersebut berkaitan satu samalain karena adanya unsur waktu yang berkelanjutan.
Berdasarkan ungkapan diatas adapun struktur umum alur cerita dari awal hingga akhitr cerita yang menggambarkan kronologis cerita tersebut:
1. Awal
a. Paparan (Exposition)
Alur cerita pendek ini dibuka dengan sebuah kisah pada suatu malam musim panas yang gelap, yang hanya dikelilingi dengan kilatan cahaya yang menyambar awan gelap dan pertanda akan terjadi badai. Tepatnya kejadian tersebut berada disebuah pemakan yang mana Henry Armstrong baru saja dikuburkan.
b. Rangsangan (Inciting moment/force)
Pada suatu malam musim panas yang gelap tersebut ada situasi yang menjanggalkan dipemakaman tersebut, karena disana terdapat tiga orang yang terdiri dari dua mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi kedokteran dan yang satu ialah salah seorang penggali kuburan yang bernama Jess. Jess adalah seorang negro raksasa dan pekerja biasa dipemakaman tersebut, dia telah lama berada dipemakaman tersebut dan dia tahu setiap jiwa yang berada disana. Pekerjaan yang dilakukan oleh jess sebagai pembongkar makam ialah pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Mereka berada dipemakaman tersebut merasa aman ketika akan melakukan penggalian salah satu makam disana yaitu makamnya Henry Amstrong.
c. Gawatan (Rising Action)
Pengarang menggambarkan aksi yang yang terjadi pada cerita ini ketika mereka bertiga melakukan pembongkaran makam Henry Armstrong pada malam tersebut hingga terangkat keluarlah peti mati Henry Armstrong tersebut.
2. Tengah
a. Tikaian (conflict)
konfliks yang terjadi ialah Pekerjaan penggalian tidak sulit, yang tadinya telah memberikan sedikit perlawanan dan segera dibuang. Pengangkatan peti mati dari lubangnya kurang mudah, tetapi dapat dikeluarkan. karena itu adalah penghasilan tambahan bagi Jess, yang dengan hati-hati melepaskan penutup dan meletakkannya di samping, memperlihatkan tubuh dengan celana panjang hitam dan kemeja putih. Pada saat itu udara berembus, kejutan yang mengejutkan dari guntur mengguncang dunia yang tercengang dan Henry Armstrong duduk tenang. telah dapat mengeluarkan peti mati Henry Armstrong udara menghembus, suara guntur yang mengejutkan dan hingga membangunkan henry armstrong hingga terduduk tenang.
b. Rumitan (complication)
Cerita tersebut menjadi rumit pengarang menggambarkan kerumitan tersebut dengan sebuah kejadian seperti teriakan yang tidak jelas, kedua mahasiswa itu lari ketakutan keberbagai arah. Akan tetapi tidak ada masalah dengan jess sendiri. Mereka meninggalkan Jess dipemakaman itu sendiri.
c. klimaks
Di situasi yang mencengangkan ini tepatnya di pagi hari yang kelabu, kedua murid itu, pucat dan lesu karena kecemasan dan dengan teror petualangan mereka yang masih berdeguk kencang dalam darah mereka, bertemu di kampus kedokteran. Mereka berbincang-bincang tentang ketakutan dari teror semalam. Mereka berkeliling ke belakang gedung, mereka melihat kuda dengan kereta ringan yang menepi didepan pintu ruang bedah.
3. Akhir
a. Leraian (falling Action)
Pada leraian ini Mereka langsung masuk keruang bedah tersebut, dan mereka berdua bertemu dengan Jess yang bangkit dari tempat duduk dengan mata dan gigi menyeringai. Disana Jess meminta upah kepada kedua mahasiswa tersebut. karena telah berhasil menyelesaikan tugasnya menggali dan membawa mayat Henry Armstrong kehadapan kedua mahasiswa tersebut.
b. Selesaian (Denoument)
Akhir ceritanya ini diakhiri dengan selesainya pekerjaan Jess hingga membaringkan mayat Henry Armstrong yang kepalanya berlumuran darah dan tanah liat disebuah meja panjang akibat pukulan skopnya.
Pada alur cerita atau plot akhir cerita ini pengarang menggunakan Close Plot karena akhir ceritanya tidak menggantung. Semua pristiwa atau konfliks yang terjadi pada cerita tersebut telah selesai. Karena tujuan sitokoh utama tersebut telah tercapai.
2. Konflik (Conflict)
Melanjutkan dari uraian diatas yang membahas tentang unsur alur (plot). Pada bagian ini kita akan dihadapkan dengan pembahasan baru mengenai unsur intrinsik yang kedua yaitu mengenai konflik (conflict). Pada cerita “One Summer night dream” ini memang ceritanya sangat tergolong singkat, bahkan kita tidak sadar akan konflik apa yang terjadi pada cerita ini, apakah konflik ini terjadi antara manusia dengan manusia dengan manusia (man against man), manusia dengan dirinya sendiri (man against himself), ataupun manusia dengan lingkungannya (man against environment). Mengenai ketiga poin tersebut, pada cerita One Summer Night ini terdapat dua jenis konflict yaitu konflik antara manusia dengan lingkungannya (man agains environment) dan manusia dengan dirinya sendiri (man against himself). Namun pengarang sedikit mengecoh dalam penggambaran konflik dalam alur cerita tersebut. Berikut adalah pemaparan mengenai konflict yang tergambar pada alur cerita One Summer Night yang berkaitan antara manusia dengan lingkungan (man against environtment) dan manusia dengan dirinya sendiri (man against himself).
a. Konflik manusia dengan lingkungan (man against environment)
Pada cerita one summer night ini pengarang menggambarkan konflik manusia dengan lingkungannya dengan cara dikaitkan dengan nama seseorang yang telah mati. Sehingga konflik tersebut seperti halnya konflik manusia dengan manusia itu sendiri. Akan tetapi hal itu tidak ada kaitannya antara orang tersebut dengan orang yang telah mati akan tetapi yang sangat berkaitan ialah antara manusia dengan lingkungan. Hal ini tergambar pada alur cerita sebagai berikut:
“It was not a night in which any credible witness was likely to be straying about a cemetery, so the three men who were there, digging into the grave of Henry Armstrong, felt reasonably secure.”
Hal yang tergambar diatas merupakan konflik yang terjadi pada cerita one summer night. Konflik itu tergambar seperti adanya kaitan konflik dengan orang yang telah mati (Henry Armstrong), akan tetapi itu tidak ada kaitannya sama sekali. Melainkan, hal itu termasuk konflik antara manusia dengan lingkungannya. Karena konflik yang tergambar tersebut menunjukan kasus kriminal dan bahkan kejadian tersebut merupakan kasus yang bertentangan dengan agama, karena melanggar hak orang-orang yang telah mati.
b. Konflik manusia dengan dirinya sendiri (man against himself)
Pada konflik yang selanjutnya ini pengarang menggambarkan konflik antara manusia dengan dirinya sendiri, dikaitkan dengan dialog perseteruan antara kedua mahasiswa kedokteran yang mana mereka merasa ketakutan ketika telah mengalami teror alam yang mereka rasakan. Akan tetapi konflik perseteruan antara kedua tokoh tersebut bukanlah konflik manusia dengan manusia, akan tetapi itu merupakan konflik antara manusia dengan dirinya sendiri. Hal tersebut digambarkan sebagai berikut:
“In the grey of the morning the two students, pallid and haggard from anxiety and with the terror of their adventure still beating tumultuously in their blood, met at the medical college.
'You saw it?' cried one.
'God! yes -- what are we to do?'”
Dari rangkaian cerita diatas tergambar bahwa perseteruan mereka bukan berarti karena mereka saling menggunjing satu sama lain karena pristiwa teror yang terjadi dikuburan pada malam hari tersebut, sehingga mereka berlarian terpisah satu sama lain. Akan tetapi konflik tersebut merupakan konflik antara manusia dengan diri sendiri yang berkaitan dengan jiwa mereka masing-masing, yang merasa ketakutan dari teror tersebut.
3. Tokoh (Character)
Berlanjut dari dua pembahasan diatas yang membahas tentang alur cerita atau plot dan konfliks (Conflict), pada bagian ini kita akan dihadapkan dengan pembahasan mengenai tokoh (Character) pada cerita One Summer Night. Seorang tokohlah yang akan menghidupkan jalannya cerita. Dalam sebuah cerita fiksi tokoh merupakan peranan penting dalam sebuah alur cerita. Mengaju pada fungsinya dalam sebuah cerita fiksi tokoh dibagi menjadi dua jenis tokoh yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan.
Pada cerita One Summer Night tokoh atau penokohan dapat diidentifikasi melalui alur yang terjadi sebagai berikut:
2. Konflik (Conflict)
Melanjutkan dari uraian diatas yang membahas tentang unsur alur (plot). Pada bagian ini kita akan dihadapkan dengan pembahasan baru mengenai unsur intrinsik yang kedua yaitu mengenai konflik (conflict). Pada cerita “One Summer night dream” ini memang ceritanya sangat tergolong singkat, bahkan kita tidak sadar akan konflik apa yang terjadi pada cerita ini, apakah konflik ini terjadi antara manusia dengan manusia dengan manusia (man against man), manusia dengan dirinya sendiri (man against himself), ataupun manusia dengan lingkungannya (man against environment). Mengenai ketiga poin tersebut, pada cerita One Summer Night ini terdapat dua jenis konflict yaitu konflik antara manusia dengan lingkungannya (man agains environment) dan manusia dengan dirinya sendiri (man against himself). Namun pengarang sedikit mengecoh dalam penggambaran konflik dalam alur cerita tersebut. Berikut adalah pemaparan mengenai konflict yang tergambar pada alur cerita One Summer Night yang berkaitan antara manusia dengan lingkungan (man against environtment) dan manusia dengan dirinya sendiri (man against himself).
a. Konflik manusia dengan lingkungan (man against environment)
Pada cerita one summer night ini pengarang menggambarkan konflik manusia dengan lingkungannya dengan cara dikaitkan dengan nama seseorang yang telah mati. Sehingga konflik tersebut seperti halnya konflik manusia dengan manusia itu sendiri. Akan tetapi hal itu tidak ada kaitannya antara orang tersebut dengan orang yang telah mati akan tetapi yang sangat berkaitan ialah antara manusia dengan lingkungan. Hal ini tergambar pada alur cerita sebagai berikut:
“It was not a night in which any credible witness was likely to be straying about a cemetery, so the three men who were there, digging into the grave of Henry Armstrong, felt reasonably secure.”
Hal yang tergambar diatas merupakan konflik yang terjadi pada cerita one summer night. Konflik itu tergambar seperti adanya kaitan konflik dengan orang yang telah mati (Henry Armstrong), akan tetapi itu tidak ada kaitannya sama sekali. Melainkan, hal itu termasuk konflik antara manusia dengan lingkungannya. Karena konflik yang tergambar tersebut menunjukan kasus kriminal dan bahkan kejadian tersebut merupakan kasus yang bertentangan dengan agama, karena melanggar hak orang-orang yang telah mati.
b. Konflik manusia dengan dirinya sendiri (man against himself)
Pada konflik yang selanjutnya ini pengarang menggambarkan konflik antara manusia dengan dirinya sendiri, dikaitkan dengan dialog perseteruan antara kedua mahasiswa kedokteran yang mana mereka merasa ketakutan ketika telah mengalami teror alam yang mereka rasakan. Akan tetapi konflik perseteruan antara kedua tokoh tersebut bukanlah konflik manusia dengan manusia, akan tetapi itu merupakan konflik antara manusia dengan dirinya sendiri. Hal tersebut digambarkan sebagai berikut:
“In the grey of the morning the two students, pallid and haggard from anxiety and with the terror of their adventure still beating tumultuously in their blood, met at the medical college.
'You saw it?' cried one.
'God! yes -- what are we to do?'”
Dari rangkaian cerita diatas tergambar bahwa perseteruan mereka bukan berarti karena mereka saling menggunjing satu sama lain karena pristiwa teror yang terjadi dikuburan pada malam hari tersebut, sehingga mereka berlarian terpisah satu sama lain. Akan tetapi konflik tersebut merupakan konflik antara manusia dengan diri sendiri yang berkaitan dengan jiwa mereka masing-masing, yang merasa ketakutan dari teror tersebut.
3. Tokoh (Character)
Berlanjut dari dua pembahasan diatas yang membahas tentang alur cerita atau plot dan konfliks (Conflict), pada bagian ini kita akan dihadapkan dengan pembahasan mengenai tokoh (Character) pada cerita One Summer Night. Seorang tokohlah yang akan menghidupkan jalannya cerita. Dalam sebuah cerita fiksi tokoh merupakan peranan penting dalam sebuah alur cerita. Mengaju pada fungsinya dalam sebuah cerita fiksi tokoh dibagi menjadi dua jenis tokoh yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan.
Pada cerita One Summer Night tokoh atau penokohan dapat diidentifikasi melalui alur yang terjadi sebagai berikut:
“But something was going on overhead. It was a dark summer night, shot through with infrequent shimmers of lightning silently firing a cloud lying low in the west and portending a storm. These brief, stammering illuminations brought out with ghastly distinctness the monuments and headstones of the cemetery and seemed to set them dancing. It was not a night in which any credible witness was likely to be straying about a cemetery, so the three men who were there, digging into the grave of Henry Armstrong, felt reasonably secure. (Bierce, 1893: 2)
Two of them were young students from a medical college a few miles away; the third was a gigantic negro known as Jess. For many years Jess had been employed about the cemetery as a man-of-all-work and it was his favourite pleasantry that he knew 'every soul in the place.' From the nature of what he was now doing it was inferable that the place was not so populous as its register may have shown it to be. (Bierce, 1893: 2)
Outside the wall, at the part of the grounds farthest from the public road, were a horse and a light wagon, waiting. (Bierce, 1893: 2)
The work of excavation was not difficult: the earth with which the grave had been loosely filled a few hours before offered little resistance and was soon thrown out. Removal of the casket from its box was less easy, but it was taken out, for it was a perquisite of Jess, who carefully unscrewed the cover and laid it aside, exposing the body in black trousers and white shirt. At that instant the air sprang to flame, a cracking shock of thunder shook the stunned world and Henry Armstrong tranquilly sat up. With inarticulate cries the men fled in terror, each in a different direction. For nothing on earth could two of them have been persuaded to return. But Jess was of another breed.
In the grey of the morning the two students, pallid and haggard from anxiety and with the terror of their adventure still beating tumultuously in their blood, met at the medical college.
'You saw it?' cried one.
'God! yes -- what are we to do?' (Bierce,1893: 2)
They went around to the rear of the building, where they saw a horse, attached to a light wagon, hitched to a gatepost near the door of the dissecting-room. Mechanically they entered the room. On a bench in the obscurity sat the negro Jess. He rose, grinning, all eyes and teeth.
'I'm waiting for my pay,' he said.
Stretched naked on a long table lay the body of Henry Armstrong, the head defiled with blood and clay from a blow with a spade." (Bierce, 1893: 3)
Berdasarkan kutipan alur diatas dapat diidentifikasi tiga aspek yang ada pada alur cerita One Summer Night yaitu aspek fisik, aspek psikologi dan aspek sosial.
1. Aspek fisik
Ditinjau secara fisik terdapat tiga tokoh pada alur cerita One summer Night yaitu sosok Jess dan kedua mahasiswa muda perguruan tinggi medis.
a. Jess : Dapat kita lihat dari penjelasan pengarang pada kutipan berikut: “the third was a gigantic negro known as Jess” (Bierce, 1893: 2) Jess merupakan sosok yang memiliki tubuh yang besar dan dia merupakan keturunan orang berkulit hitam.
b. kedua siswa dari sebuah perguruan tinggi medis: kedua orang ini tidak banyak dijelaskan mengenai fisik mereka, mereka hanya disebutkan berusia muda.
2. Aspek psikologi
Ditinjau dari aspek psikologi ketiga tokoh jess dan kedua mahasiswa peguruan tinggi medis tersebut mereka memiliki sifat yang berlawanan, yakni dapat dipaparkan sebagai berikut:
a. Jess : dari segi psikologi tokoh jess ini merupakan sosok yang memiliki sosok pekerja keras, pemberani dan tangung jawab. Berikut merupakan kutipan sifat dari sosok jess:” For many years Jess had been employed about the cemetery as a man-of-all-work and it was his favourite pleasantry that he knew 'every soul in the place. The work of excavation was not difficult: the earth with which the grave had been loosely filled a few hours before offered little resistance and was soon thrown out. Removal of the casket from its box was less easy, but it was taken out, for it was a perquisite of Jess, who carefully unscrewed the cover and laid it aside, exposing the body in black trousers and white shirt.” (Bierce, 1893: 2)
Sosok jess memang tergolong pemberani dan tanggung jawab, itu digambarkan pada alur pada cerita tersebut ketika kedua mahasiswa berlarian jess tetap berjuang sendiri mengurus mayat henry, karena ia bertanggung jawab atas permintaan mahasiswa tersebut dan hingga dia mengantarkan mayatnya sendiri kekampus mahasiswa tersebut.
b. Kedua mahasiswa perguruan tinggi medis: Sedangkan kedua sosok mahasiswa yang tergambar pada alur cerita berikut: “At that instant the air sprang to flame, a cracking shock of thunder shook the stunned world and Henry Armstrong tranquilly sat up. With inarticulate cries the men fled in terror, each in a different direction. For nothing on earth could two of them have been persuaded to return. But Jess was of another breed. (Bierce, 1893: 2)
In the grey of the morning the two students, pallid and haggard from anxiety and with the terror of their adventure still beating tumultuously in their blood, met at the medical college.
'You saw it?' cried one.
'God! yes -- what are we to do?'” (Bierce, 1893: 2)
Berdasarkan kutipan diatas kedua mahasiswa tersebut merupakan sosok yang penakut. Pada kutipan tersebut tergambar jelas bahwa mereka ketakutan ketika melihat mayat henry yang duduk tenang, karena teror alam mereka berlarian seakan-akan mayat henry tersebut hidup. Berbeda halnya dengan jess yang pemberani dikarenakan jess sudah terbiasa dengan lingkungan sekitar. Dan sifat penakut mereka pun tergambar jelas ketika mereka bertemu dikampus dengan penjelasan pengarang mengenai kondisi mereka yang pucat dan tawar-menawar karena cemas menandakan bahwa mereka itu memang penakut.
3. Aspek sosial
Ditinjau dari aspek sosial ketiga tokoh yang berada pada cerita One Summer night dapat dipaparkan sebagai berikut:
a. Jess adalah seorang pekerja pemakaman, yang memiliki sifat pekerja keras, pemberani, sehingga dia dipercaya untuk bekerja dipemakaman tersebut.
b. Kedua mahasiswa: mereka adalah seorang mahasiswa perguruan tinggi kedokteran, mereka adalah sosok yang penakut dan mereka juga merupakan siswa yang bertanggung jawab akan tugas perkuliahan mereka hingga mencari mayat untuk bahan praktek. Akan tetapi mereka bukan siswa yang patut dicontoh karena perbuatan mereka termasuk perbuatan kriminal.
Berdasarkan ketiga aspek dalam penokohan diatas dapat diklasifikasikan menjadi sebagai berikut:
a. Dilihat dari proporsi sifatnya
1. Jess dapat digolongkan kedalam round character karena sifat yang dia miliki disuatu sisi dia memiliki sifat yang baik dan disisi lain dia memiliki sifat yang jahat.
2. Kedua siswa mereka termasuk kedalam flat character karena mereka hanya memiliki satu character yang tidak baik. Mereka adalah mahasiswa yang terlibat dengan kasus pencurian mayat, walaupun mereka seorang yang penakut karena dorongan sosialnya mereka dapat terlibat dengan situasi kriminal tersebut.
b. Dilihat dari perkembangan wataknya
1. Jess sosok jess ini wataknya tergolong pada develoving character yang disuatu sisi dia memiliki sifat yang baik akan tetapi disisi yang lain memiliki sisi yang buruk karena didorong oleh situasi dan kondisi sosial pada lingkungannya.
2. Kedua siswa ini tergolong kedalam static character karena mereka hanya memiliki satu sifat yang buruk saja.
c. Dilihat dari fungsinya
1. Tokoh sentral
Pada cerita One Summer Night in yang berperan sebagai tokoh utama protagonis ialah jess. Dan yang berperan sebagai tokoh antagonis adalah kedua siswa perguruan tinggi.
2. Tokoh bawahan
Pada cerita One Summer night ini tidak terdapat tokoh bawahan. Cerita tersebut hanya terdiri dari tokoh protagonis dan antagonis saja
4. Latar (Setting)
Dalam cerita One Summer night karya Ambrose Bierce, latar merupakan hal yang sangat mempengaruhi keseluruhan cerita tersebut. Latar pada cerita one summer night inilah yang menyebabkan ceritanya terkesan sangat horor. Beberapa kejadian yang terjadi pada latar cerita one summer night ini dapat membuat merinding bulu kuduk pembaca. Latar juga merupakan aspek yang mempengaruhi karakter tokoh pada cerita ini. Pada kali ini kita akan dihadapkan dengan pembahasan aspek latar yang ada pada cerita one summer night, diantaranya latar tempat (setting of place), Latar waktu (setting of time), latar sosial (sosial setting) dan latar ruangan (style of setting).
a. Latar tempat (setting of place)
Pada cerita one summer night, kejadian pada cerita ini berada disalah satu tempat pemakaman dan disebuah kampus. Bukti yang memperjelas bahwa kejadian pada cerita tersebut benar-benar berada kedua tempat tersebut dapat dilihat dari beberapa bukti berikut.
Bukti pertama yang menggambarkan bahwa latar tempat itu benar-benar terjadi dipemakaman yaitu ketika malam musim panas kilatan cahaya yang menyambar awan yang mengakibatkan badai dan terjadi sebuah iluminasi pada batu-batu nisan, jess bersama kedua mahasiswa perguruan tinggi kedokteran yang tidak jauh dari pemakaman tersebut menggali kuburan hennry armstrong dan dijelaskan bahwa jess merupakan seorang pekerja pemakaman yang telah lama bekerja dipemakaman tersebut. Beberapa bukti tersebut memang tergambar ada pada cerita tersebut dan memperkuat bahwa latar tempat tersebut memang terjadi disebuah pemakaman.
Bukti kedua yang menggambarkan bahwa kejadian tersebut terjadi dikampus ialah, ketika pagi hari yang kelabu penuh kecemasan mereka bertemu di perguruan tinggi kedokteran, mereka berkeliling kebelakang gedung, dan menuju ruang bedah. Ruang bedah yang dimaksud bukan merupakan ruang bedah yang berada dirumah sakit, akan tetapi ruang bedah tersebut merupakan ruang praktek mahasiswa kedokteran untuk melaksanakan peraktek diperkuliahan mereka.
b. Latar waktu (setting of time)
Latar waktu yang digambarkan pada cerita ini terdapat dua waktu yaitu pada malam dan pagi hari. Digambarkan dengan bukti yang jelas melalui kejadian yang terjadi sebagai berikut:
ketika malam musim panas dengan kilatan cahaya menyambar awan disuatu pemakaman ketika jess dan kedua mahasiswa menggali kuburan henry armstrong, dan mencoba mengeluarkan mayat dari petinya.
Pada pagi hari yang kelabu disuatu perguruan tinggi kedokteran ketika kedua mahasiswa merasa ketakutan karena teror alam yang terjadi pada malam hari di pemakaman,mereka berjalan mengelilingi gedung menuju keruangan bedah disana bertemu dengan jess yang menyerahkan mayat henry armstrong.
c. Latar sosial (social setting)
Latar sosial yang terjadi pada cerita one summer night ini berada dilingkungan lingkungan sosial kelas bawah, ditunjukan bahwa jess hanya seorang pekerja pemakaman yang hanya memiliki pekerjaan sampingan sebagai penggali kubur, sehingga latar sosial jess yang tergolong lingkungan sosial kelas bawah ini menyebabkan pekerjaan sampingan yang tergolong kriminal yaitu mencuri mayat dan menjualnya itu ditekuninya hanya untuk memenuhi kehidupannya. dan mahsiswa tersebut juga termasuk kelas bawah karena mereka hanya bisa membayar jasa pekerjaan jess saja, tidak mampu untuk memberi mayat dari rumah sakit yang mahal harganya.
d. Latar ruangan (style of setting)
Latar ruangan pada cerita ini berada dikuburan henry armstrong yang berada ditanah pemakaman dimana jess bekerja dan sebuah ruang bedah diperguruan tinggi tempat kedua mahasiswa itu kuliah. kutipan penjelasannya digambarkan sebagai berikut: ketika jess dan ketiga mahasiswa tersebut menggali kuburan henry armstrong mencoba mengeluarkan mayatnya dari kuburan tersebut. Dan disalah satu ruang bedah di perguruan tinggi kedokteran, ketika jess bangun dan senyum lebar menyerahkan mayat henry armstrong dan meminta bayaran atas pekerjaannya.
4. Latar (Setting)
Dalam cerita One Summer night karya Ambrose Bierce, latar merupakan hal yang sangat mempengaruhi keseluruhan cerita tersebut. Latar pada cerita one summer night inilah yang menyebabkan ceritanya terkesan sangat horor. Beberapa kejadian yang terjadi pada latar cerita one summer night ini dapat membuat merinding bulu kuduk pembaca. Latar juga merupakan aspek yang mempengaruhi karakter tokoh pada cerita ini. Pada kali ini kita akan dihadapkan dengan pembahasan aspek latar yang ada pada cerita one summer night, diantaranya latar tempat (setting of place), Latar waktu (setting of time), latar sosial (sosial setting) dan latar ruangan (style of setting).
a. Latar tempat (setting of place)
Pada cerita one summer night, kejadian pada cerita ini berada disalah satu tempat pemakaman dan disebuah kampus. Bukti yang memperjelas bahwa kejadian pada cerita tersebut benar-benar berada kedua tempat tersebut dapat dilihat dari beberapa bukti berikut.
Bukti pertama yang menggambarkan bahwa latar tempat itu benar-benar terjadi dipemakaman yaitu ketika malam musim panas kilatan cahaya yang menyambar awan yang mengakibatkan badai dan terjadi sebuah iluminasi pada batu-batu nisan, jess bersama kedua mahasiswa perguruan tinggi kedokteran yang tidak jauh dari pemakaman tersebut menggali kuburan hennry armstrong dan dijelaskan bahwa jess merupakan seorang pekerja pemakaman yang telah lama bekerja dipemakaman tersebut. Beberapa bukti tersebut memang tergambar ada pada cerita tersebut dan memperkuat bahwa latar tempat tersebut memang terjadi disebuah pemakaman.
Bukti kedua yang menggambarkan bahwa kejadian tersebut terjadi dikampus ialah, ketika pagi hari yang kelabu penuh kecemasan mereka bertemu di perguruan tinggi kedokteran, mereka berkeliling kebelakang gedung, dan menuju ruang bedah. Ruang bedah yang dimaksud bukan merupakan ruang bedah yang berada dirumah sakit, akan tetapi ruang bedah tersebut merupakan ruang praktek mahasiswa kedokteran untuk melaksanakan peraktek diperkuliahan mereka.
b. Latar waktu (setting of time)
Latar waktu yang digambarkan pada cerita ini terdapat dua waktu yaitu pada malam dan pagi hari. Digambarkan dengan bukti yang jelas melalui kejadian yang terjadi sebagai berikut:
ketika malam musim panas dengan kilatan cahaya menyambar awan disuatu pemakaman ketika jess dan kedua mahasiswa menggali kuburan henry armstrong, dan mencoba mengeluarkan mayat dari petinya.
Pada pagi hari yang kelabu disuatu perguruan tinggi kedokteran ketika kedua mahasiswa merasa ketakutan karena teror alam yang terjadi pada malam hari di pemakaman,mereka berjalan mengelilingi gedung menuju keruangan bedah disana bertemu dengan jess yang menyerahkan mayat henry armstrong.
c. Latar sosial (social setting)
Latar sosial yang terjadi pada cerita one summer night ini berada dilingkungan lingkungan sosial kelas bawah, ditunjukan bahwa jess hanya seorang pekerja pemakaman yang hanya memiliki pekerjaan sampingan sebagai penggali kubur, sehingga latar sosial jess yang tergolong lingkungan sosial kelas bawah ini menyebabkan pekerjaan sampingan yang tergolong kriminal yaitu mencuri mayat dan menjualnya itu ditekuninya hanya untuk memenuhi kehidupannya. dan mahsiswa tersebut juga termasuk kelas bawah karena mereka hanya bisa membayar jasa pekerjaan jess saja, tidak mampu untuk memberi mayat dari rumah sakit yang mahal harganya.
d. Latar ruangan (style of setting)
Latar ruangan pada cerita ini berada dikuburan henry armstrong yang berada ditanah pemakaman dimana jess bekerja dan sebuah ruang bedah diperguruan tinggi tempat kedua mahasiswa itu kuliah. kutipan penjelasannya digambarkan sebagai berikut: ketika jess dan ketiga mahasiswa tersebut menggali kuburan henry armstrong mencoba mengeluarkan mayatnya dari kuburan tersebut. Dan disalah satu ruang bedah di perguruan tinggi kedokteran, ketika jess bangun dan senyum lebar menyerahkan mayat henry armstrong dan meminta bayaran atas pekerjaannya.
5. Tema (theme)
Tema merupakan hal utama yang mendasari jalannya suatu cerita maupun karya sastra lainnya.Tema dalam sebuah cerita dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu: tema mayor (Major theme) dan tema minor (Minor theme), kedua tema tersebut saling mengikat satu sama lain. Dalam cerpen One Summer Night terdapat tema yang tergambar seperti kedua tema yang telah disebutkan tersebut. Dibawah ini adalah merupakan uraian mengenai tema yang terdapat pada cerpen tersebut.
a.Tema mayor (Major theme)
Tema mayor (Major Theme) merupakan satu ide pokok yang mengikat keseluruhan cerita. Berdasarkan analisis dari keseluruhan cerita pada cerpen One Summer Night ini tema yang mengikat keseluruhan dari cerita tersebut adalah Aksi pencurian mayat Henry Armstrong yang dilakukan oleh kedua mahasiswa kedokteran dan dibantu oleh seorang pekerja pemakaman yang bernama jess pada malam musim panas.
b.Tema minor (Minor Theme)
Tema yang kedua adalah tema minor (Minor theme) yaitu tema yang muncul lebih spesifik untuk mewakili setiap adegan pada setiap pristiwa didalam sebuah alur cerita. Pada cerita One Summer Night ini terdapat beberapa tema yang mewakili cerita tersebut yaitu sebagai berikut:
a) Malam musim panas yang mengerikan ketika henry armstrong telah dimakamkan, tema tersebut merupakan tema yang menggambarkan situasi dipemakaman pada malam hari dimusim panas dimana henry armstrong dikuburkan.
b) Tiga orang pria yang merasa aman dalam menggali kuburan henry armstrong, tema tersebut menggambarkan bahwa ketiga pria tersebut merasa aman dan mudah sesaat ketika melakukan penggalian kuburan henry armstrong tersebut, karena mereka melakukan hal tersebut bekerja sama dengan seorang pekerja pemakaman yang telah ahli dipemakaman tersebut.
c) Teror alam yang membubarkan aksi pencurian mayat henry armstrong, tema tersebut menggambarkan keadaan alam yang tidak memihak pada mereka.
d) Pagi yang kelabu penuh kecemasan karena teror alam pada malam musim panas, tema tersebut menggambarkan dampak yang terjadi karena kejadian pada malam musim panas tersebut, kedua mahasiswa yang ketika terjadi teror tersebut berlarian dan meninggalkan jess sendiri mereka merasa sangat ketakutan.
e) Keberhasilan seorang pekerjaan pemakaman dalam membawa mayat henry armstrong kehadapan kedua mahasiswa kedokteran, tema tersebut menggambarkan berhasilnya aksi pencurian mayat henry armstrong yang dilakukan oleh ketiga orang pria yang terdiri dari dua orang mahasiswa perguruan tinggi kedokteran dan seorang pekerja pemakaman yang bernama jess, namun yang berani membawa sampai keruang bedah hanya jess seorang.
6. Sudut pandang (Point of view)
Berdasarkan hasil penelitian dalam keseluruhan alur pada Cerpen yang berjudul “One Summer Night” karya Ambrose Bierce, pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga mahatahu (third omniscient point of view). Pada cerita tersebut pengarang tahu dan memiliki kebebasan memberitahukan kepada pembaca, mengenai apa yang karakter pikirkan dan rasakan, dan menafsirkan atau mengungkapkan perilaku mereka (karakter) lakukan.
Berikut merupakan rangkaian bukti yang tergambar“The fact that Henry Armstrong was buried did not seem to him to prove that he was dead: he had always been a hard man to convince. That he really was buried, the testimony of his senses compelled him to admit. His posture -- flat upon his back, with his hands crossed upon his stomach and tied with something that he easily broke without profitably altering the situation -- the strict confinement of his entire person, the black darkness and profound silence, made a body of evidence impossible to controvert and he accepted it without cavil.” (Bierce, 1893: 1)
“But dead -- no; he was only very, very ill. He had, withal, the invalid's apathy and did not greatly concern himself about the uncommon fate that had been allotted to him.” (Bierce, 1893: 1)
" It was not a night in which any credible witness was likely to be straying about a cemetery, so the three men who were there, digging into the grave of Henry Armstrong, felt reasonably secure. Two of them were young students from a medical college a few miles away; the third was a gigantic negro known as Jess. For many years Jess had been employed about the cemetery as a man-of-all-work and it was his favourite pleasantry that he knew 'every soul in the place.' From the nature of what he was now doing it was inferable that the place was not so populous as its register may have shown it to be.”(Bierce, 1893:2)
“The work of excavation was not difficult: the earth with which the grave had been loosely filled a few hours before offered little resistance and was soon thrown out. Removal of the casket from its box was less easy, but it was taken out, for it was a perquisite of Jess, who carefully unscrewed the cover and laid it aside, exposing the body in black trousers and white shirt.”(Bierce, 1893:2)
“With inarticulate cries the men fled in terror, each in a different direction. For nothing on earth could two of them have been persuaded to return. But Jess was of another breed. In the grey of the morning the two students, pallid and haggard from anxiety and with the terror of their adventure still beating tumultuously in their blood, met at the medical college.”(Bierce, 1893:2)
Diatas merupakan bukti yang saya dapat dalam rangkaian alur cerita pada cerpen One Summer Night mengenai sudut pandang pengarang mengenai alur pada cerpennya tersebut.
6. Sudut pandang (Point of view)
Berdasarkan hasil penelitian dalam keseluruhan alur pada Cerpen yang berjudul “One Summer Night” karya Ambrose Bierce, pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga mahatahu (third omniscient point of view). Pada cerita tersebut pengarang tahu dan memiliki kebebasan memberitahukan kepada pembaca, mengenai apa yang karakter pikirkan dan rasakan, dan menafsirkan atau mengungkapkan perilaku mereka (karakter) lakukan.
Berikut merupakan rangkaian bukti yang tergambar“The fact that Henry Armstrong was buried did not seem to him to prove that he was dead: he had always been a hard man to convince. That he really was buried, the testimony of his senses compelled him to admit. His posture -- flat upon his back, with his hands crossed upon his stomach and tied with something that he easily broke without profitably altering the situation -- the strict confinement of his entire person, the black darkness and profound silence, made a body of evidence impossible to controvert and he accepted it without cavil.” (Bierce, 1893: 1)
“But dead -- no; he was only very, very ill. He had, withal, the invalid's apathy and did not greatly concern himself about the uncommon fate that had been allotted to him.” (Bierce, 1893: 1)
" It was not a night in which any credible witness was likely to be straying about a cemetery, so the three men who were there, digging into the grave of Henry Armstrong, felt reasonably secure. Two of them were young students from a medical college a few miles away; the third was a gigantic negro known as Jess. For many years Jess had been employed about the cemetery as a man-of-all-work and it was his favourite pleasantry that he knew 'every soul in the place.' From the nature of what he was now doing it was inferable that the place was not so populous as its register may have shown it to be.”(Bierce, 1893:2)
“The work of excavation was not difficult: the earth with which the grave had been loosely filled a few hours before offered little resistance and was soon thrown out. Removal of the casket from its box was less easy, but it was taken out, for it was a perquisite of Jess, who carefully unscrewed the cover and laid it aside, exposing the body in black trousers and white shirt.”(Bierce, 1893:2)
“With inarticulate cries the men fled in terror, each in a different direction. For nothing on earth could two of them have been persuaded to return. But Jess was of another breed. In the grey of the morning the two students, pallid and haggard from anxiety and with the terror of their adventure still beating tumultuously in their blood, met at the medical college.”(Bierce, 1893:2)
Diatas merupakan bukti yang saya dapat dalam rangkaian alur cerita pada cerpen One Summer Night mengenai sudut pandang pengarang mengenai alur pada cerpennya tersebut.
7. Simbol (symbol)
Sebuah cerpen yang berjudul One Summer Night karya Ambrose Bierce merupakan sebuah cerpen yang tergolong menarik untuk dibaca. Pada cerita tersebut ada beberapa makna tersembunyi yang tidak diungkapkan langsung oleh pengarang, namun pengarang hanya menempatkan makna tersebut dalam bentuk simbol. Simbol merupakan sebuah gaya bahasa seorang penulis yang diterapkan untuk menyembunyikan makna sebenarnya dari makna abstrak yang terdapat dalam ceritanya, simbol ini dapat berupa objek, tokoh, situasi, tindakan, tempat atau bentuk lainnya. Adapun beberapa simbol yang terdapat dalam cerpen tersebut yakni sebagai berikut.
A gigantic negro (Bierce, 1893: 2) simbol yang terdapat dalam cerita One Summer Night, pengarang menempatkan simbol tersebut yang merujuk pada sosok Jess (seorang penjaga kuburan), beliau adalah seorang pria yang memiliki perawakan besar dan beliau merupakan keturuna orang berkulit hitam. Dapat disimpulkan bahwa simbol tersebut merujuk pada seseorang.
In the grey of the morning (Bierce, 1893: 2) simbol tersebut menggambarkan situasi pada cerpen one summer night, jika diartikan kedalam bahasa indonesia situasi tersebut berarti pada pagi hari yang kelabu. Akan tetapi penulis menerapkan gaya bahasanya menjadikan situasi tersebut menujukkan pada situasi pada pagi hari pikiran seorang tokoh sedang merasa resah.
he fell asleep (Bierce, 1893: 1) jika diartikan kedalam bahasa Indonesia kata tersebut menjadi dia tertidur. Akan tetapi penulis menggunakan kata tersebut untuk memasukan makna bahwa kata tersebut memiliki arti dia telah berpindah pada alam kedua setelah kehidupan dunia atau dia telah meninggal dunia.
a horse and a light wagon (Bierce, 1893: 2) pada cerita tersebut ada seekor kuda dan kereta yang terikat dikudanya, benda tersebut menunjukkan simbol objek, bahwa kuda tersebut merupakan salah satu alat transportasi yang digunakan pada cerita one summer night tersebut.
Sebuah cerpen yang berjudul One Summer Night karya Ambrose Bierce merupakan sebuah cerpen yang tergolong menarik untuk dibaca. Pada cerita tersebut ada beberapa makna tersembunyi yang tidak diungkapkan langsung oleh pengarang, namun pengarang hanya menempatkan makna tersebut dalam bentuk simbol. Simbol merupakan sebuah gaya bahasa seorang penulis yang diterapkan untuk menyembunyikan makna sebenarnya dari makna abstrak yang terdapat dalam ceritanya, simbol ini dapat berupa objek, tokoh, situasi, tindakan, tempat atau bentuk lainnya. Adapun beberapa simbol yang terdapat dalam cerpen tersebut yakni sebagai berikut.
A gigantic negro (Bierce, 1893: 2) simbol yang terdapat dalam cerita One Summer Night, pengarang menempatkan simbol tersebut yang merujuk pada sosok Jess (seorang penjaga kuburan), beliau adalah seorang pria yang memiliki perawakan besar dan beliau merupakan keturuna orang berkulit hitam. Dapat disimpulkan bahwa simbol tersebut merujuk pada seseorang.
In the grey of the morning (Bierce, 1893: 2) simbol tersebut menggambarkan situasi pada cerpen one summer night, jika diartikan kedalam bahasa indonesia situasi tersebut berarti pada pagi hari yang kelabu. Akan tetapi penulis menerapkan gaya bahasanya menjadikan situasi tersebut menujukkan pada situasi pada pagi hari pikiran seorang tokoh sedang merasa resah.
he fell asleep (Bierce, 1893: 1) jika diartikan kedalam bahasa Indonesia kata tersebut menjadi dia tertidur. Akan tetapi penulis menggunakan kata tersebut untuk memasukan makna bahwa kata tersebut memiliki arti dia telah berpindah pada alam kedua setelah kehidupan dunia atau dia telah meninggal dunia.
a horse and a light wagon (Bierce, 1893: 2) pada cerita tersebut ada seekor kuda dan kereta yang terikat dikudanya, benda tersebut menunjukkan simbol objek, bahwa kuda tersebut merupakan salah satu alat transportasi yang digunakan pada cerita one summer night tersebut.
8. Ironi (Irony)
Ironi (Irony) merupakan sesuatu kata-kata yang biasanya menandakan perbedaan antara penampakan atau pengetahuan kita terhadap sesuatu atau realitanya. Sebuah ironi memiliki banyak bentuk nya dari setiap adegan dalam suatu cerita, diantarnya ada yang berupa verbal irony, irony of situation, dan dramatic irony. Akan tetapi, ketiga irony tersebut biasanya tidak muncul semua dalam suatu cerita terutama dalam cerpen. Dibawah ini merupakan pemaparan Ironi (Irony) yang terdapat dalam cerpen One Summer Night By Ambrose Bierce.
Ironi (Irony) merupakan sesuatu kata-kata yang biasanya menandakan perbedaan antara penampakan atau pengetahuan kita terhadap sesuatu atau realitanya. Sebuah ironi memiliki banyak bentuk nya dari setiap adegan dalam suatu cerita, diantarnya ada yang berupa verbal irony, irony of situation, dan dramatic irony. Akan tetapi, ketiga irony tersebut biasanya tidak muncul semua dalam suatu cerita terutama dalam cerpen. Dibawah ini merupakan pemaparan Ironi (Irony) yang terdapat dalam cerpen One Summer Night By Ambrose Bierce.
a. Verbal irony
Verbal irony adalah sebuah ungkapan yang diungkapkan oleh seorang tokoh berkebalikan dengan makna sesungguhnya.
Pada cerpen One Summer Night karya ambrose bierce ini tidak terdapat verbal ironi dalam ceritanya, karena cerpen ini hanya memiliki sedikit dialog antar tokoh.
b. Irony of situation
Irony of situation ini menggambarkan perbedaan antara hasil yang diharapkan dengan hasil aktual dalam situasi tertentu dalam novel.
Pada cerpen One Summer Night karya Ambrose Bierce tergambar pada:
“For many years Jess had been employed about the cemetery as a man-of-all-work and it was his favourite pleasantry that he knew 'every soul in the place.' From the nature of what he was now doing it was inferable that the place was not so populous as its register may have shown it to be. (Bierce, 1893:2)
The work of excavation was not difficult: the earth with which the grave had been loosely filled a few hours before offered little resistance and was soon thrown out. Removal of the casket from its box was less easy, but it was taken out, for it was a perquisite of Jess, who carefully unscrewed the cover and laid it aside, exposing the body in black trousers and white shirt.(Bierce, 1893:2)”
Berdasarkan kutipan cerita diatas dapat dijelaskan ironi dalam cerita tersebut ialah, bahwa sosok Jes yang dipercaya sebagai pekerja pemakaman yang pekerja keras, ini berbanding terbalik dengan kenyataan yang sosok jes lakukan. Pekerja keras yang jess yang terlihat dilakukan bersifat baik dimuka umum, akan tetapi dibalik pekerjaan jess yang baik itu jess juga bekerja keras untuk hal yang bersifat tidak baik.
c. Dramatic Irony
Dramatic irony merupakan sebuah pristiwa yang terjadi dalam sebuah cerita, ketika seorang audience mengetahui situasi yang terjadi dalam cerita tersebut, akan tetapi tokoh dalam cerita tidak mengetahui situasi apa yang sedang terjadi pada cerita tersebut.
Pada cerpen One Summer Night karya Ambrose Bierce digambarkan bahwa, sosok henry armstrong tidak tahu bahwa ketenangan dialam kuburnya akan diusik oleh ketiga orang yang akan mengambil jasadnya untuk bahan praktek.
“The fact that Henry Armstrong was buried did not seem to him to prove that he was dead: he had always been a hard man to convince. (Bierce, 1893:1), But dead -- no; he was only very, very ill. He had, withal, the invalid's apathy and did not greatly concern himself about the uncommon fate that had been allotted to him. (Bierce, 1893:1), So, with no particular apprehension for his immediate future, he fell asleep and all was peace with Henry Armstrong. (Bierce, 1893:2), But something was going on overhead. It was a dark summer night, shot through with infrequent shimmers of lightning silently firing a cloud lying low in the west and portending a storm. (Bierce, 1893:2), It was not a night in which any credible witness was likely to be straying about a cemetery, so the three men who were there, digging into the grave of Henry Armstrong, felt reasonably secure. (Bierce, 1893:2).”
Beberapa kutipan diatas merupakan bukti ironi yang menjelaskan mengenai hal yang tidak diketahui oleh tokoh Henry Armstrong diluar sana mengenai pembongkaran jasadnya oleh ketiga orang tersebut. akan tetapi pembaca tahu mengenai situasi yang akan terjadi pada henry armstrong tersebut.
9. Pesan Moral
Sebuah cerpen biasanya selalu memberikan dampak psikologi pada pembacanya yang berupa perasaan senang, sedih, dan kadang perasaan takut melalui rangkaian peristiwa yang diceritakan oleh pengarang. Seorang pengarang cerita selalu menyampaikan sebuah pesan dalam karangan ceritanya. Biasanya, pesan yang terdapat dalam ceritanya berupa pesan moral. Pesan moral tersebut merupakan sebuah pengajaran mengenai baik dan buruknya sesuatu. Pesan moral dalam sebuah cerita biasanya disisipkan dalam sebuah konflik, seperti konflik manusia dengan manusia (Man against man), manusia dengan komunitas manusia (Man against komunity of man), manusia dengan lingkungan (Man against environtment) dan manusia dengan dirinya sendiri (Man against himself).
Pada cerpen One Summer Night karya Abrose Bierce walaupun ceritanya tergolong singkat akan tetapi pada cerpen ini terdapat beberapa pesan moral yang disampaikan, bertujuan agar pembaca dapat mengambil pembelajaran yang baik dari rangkaian peristiwa cerita tersebut. Dibawah ini merupakan rangkaian pesan moral yang disampaikan dalam cerpen tersebut.
“It was not a night in which any credible witness was likely to be straying about a cemetery, so the three men who were there, digging into the grave of Henry Armstrong, felt reasonably secure.
Two of them were young students from a medical college a few miles away; the third was a gigantic negro known as Jess. For many years Jess had been employed about the cemetery as a man-of-all-work and it was his favourite pleasantry that he knew 'every soul in the place.' From the nature of what he was now doing it was inferable that the place was not so populous as its register may have shown it to be.
Outside the wall, at the part of the grounds farthest from the public road, were a horse and a light wagon, waiting.
The work of excavation was not difficult: the earth with which the grave had been loosely filled a few hours before offered little resistance and was soon thrown out. Removal of the casket from its box was less easy, but it was taken out, for it was a perquisite of Jess, who carefully unscrewed the cover and laid it aside, exposing the body in black trousers and white shirt.” (Bierce, 1893:2)
Berdasarkan rangkaian peristiwa yang ditebalkan diatas, itu merupakan konflik antara Manusia dengan lingkungannya. Pada konflik tersebut dapat kita ambil pesan moral yang melandasi konflik tersebut yaitu, ketika kita diberikan kepercayaan oleh orang lain maka kita harus menjaga kepercayaan itu dengan baik, jangan sampai mengingkari kepercayaan orang lain kepada kita. seperti konflik yang terjadi pada cerita tersebut, sosok jes telah sangat lama diberikan kepercayaan sebagai pegawai pemakaman dia merupakan sosok yang pekerja keras, akan tetapi sosok jes tersebut ingkar pada tanggung jawabnya sehingga ia berprilaku tidak jujur dan menjual mayat-mayat yang telah dikuburkan dipemakaman tempat dia bekerja tersebut.
“The work of excavation was not difficult: the earth with which the grave had been loosely filled a few hours before offered little resistance and was soon thrown out. Removal of the casket from its box was less easy, but it was taken out, for it was a perquisite of Jess, who carefully unscrewed the cover and laid it aside, exposing the body in black trousers and white shirt. At that instant the air sprang to flame, a cracking shock of thunder shook the stunned world and Henry Armstrong tranquilly sat up. With inarticulate cries the men fled in terror, each in a different direction. For nothing on earth could two of them have been persuaded to return. But Jess was of another breed.
In the grey of the morning the two students, pallid and haggard from anxiety and with the terror of their adventure still beating tumultuously in their blood, met at the medical college.
Verbal irony adalah sebuah ungkapan yang diungkapkan oleh seorang tokoh berkebalikan dengan makna sesungguhnya.
Pada cerpen One Summer Night karya ambrose bierce ini tidak terdapat verbal ironi dalam ceritanya, karena cerpen ini hanya memiliki sedikit dialog antar tokoh.
b. Irony of situation
Irony of situation ini menggambarkan perbedaan antara hasil yang diharapkan dengan hasil aktual dalam situasi tertentu dalam novel.
Pada cerpen One Summer Night karya Ambrose Bierce tergambar pada:
“For many years Jess had been employed about the cemetery as a man-of-all-work and it was his favourite pleasantry that he knew 'every soul in the place.' From the nature of what he was now doing it was inferable that the place was not so populous as its register may have shown it to be. (Bierce, 1893:2)
The work of excavation was not difficult: the earth with which the grave had been loosely filled a few hours before offered little resistance and was soon thrown out. Removal of the casket from its box was less easy, but it was taken out, for it was a perquisite of Jess, who carefully unscrewed the cover and laid it aside, exposing the body in black trousers and white shirt.(Bierce, 1893:2)”
Berdasarkan kutipan cerita diatas dapat dijelaskan ironi dalam cerita tersebut ialah, bahwa sosok Jes yang dipercaya sebagai pekerja pemakaman yang pekerja keras, ini berbanding terbalik dengan kenyataan yang sosok jes lakukan. Pekerja keras yang jess yang terlihat dilakukan bersifat baik dimuka umum, akan tetapi dibalik pekerjaan jess yang baik itu jess juga bekerja keras untuk hal yang bersifat tidak baik.
c. Dramatic Irony
Dramatic irony merupakan sebuah pristiwa yang terjadi dalam sebuah cerita, ketika seorang audience mengetahui situasi yang terjadi dalam cerita tersebut, akan tetapi tokoh dalam cerita tidak mengetahui situasi apa yang sedang terjadi pada cerita tersebut.
Pada cerpen One Summer Night karya Ambrose Bierce digambarkan bahwa, sosok henry armstrong tidak tahu bahwa ketenangan dialam kuburnya akan diusik oleh ketiga orang yang akan mengambil jasadnya untuk bahan praktek.
“The fact that Henry Armstrong was buried did not seem to him to prove that he was dead: he had always been a hard man to convince. (Bierce, 1893:1), But dead -- no; he was only very, very ill. He had, withal, the invalid's apathy and did not greatly concern himself about the uncommon fate that had been allotted to him. (Bierce, 1893:1), So, with no particular apprehension for his immediate future, he fell asleep and all was peace with Henry Armstrong. (Bierce, 1893:2), But something was going on overhead. It was a dark summer night, shot through with infrequent shimmers of lightning silently firing a cloud lying low in the west and portending a storm. (Bierce, 1893:2), It was not a night in which any credible witness was likely to be straying about a cemetery, so the three men who were there, digging into the grave of Henry Armstrong, felt reasonably secure. (Bierce, 1893:2).”
Beberapa kutipan diatas merupakan bukti ironi yang menjelaskan mengenai hal yang tidak diketahui oleh tokoh Henry Armstrong diluar sana mengenai pembongkaran jasadnya oleh ketiga orang tersebut. akan tetapi pembaca tahu mengenai situasi yang akan terjadi pada henry armstrong tersebut.
9. Pesan Moral
Sebuah cerpen biasanya selalu memberikan dampak psikologi pada pembacanya yang berupa perasaan senang, sedih, dan kadang perasaan takut melalui rangkaian peristiwa yang diceritakan oleh pengarang. Seorang pengarang cerita selalu menyampaikan sebuah pesan dalam karangan ceritanya. Biasanya, pesan yang terdapat dalam ceritanya berupa pesan moral. Pesan moral tersebut merupakan sebuah pengajaran mengenai baik dan buruknya sesuatu. Pesan moral dalam sebuah cerita biasanya disisipkan dalam sebuah konflik, seperti konflik manusia dengan manusia (Man against man), manusia dengan komunitas manusia (Man against komunity of man), manusia dengan lingkungan (Man against environtment) dan manusia dengan dirinya sendiri (Man against himself).
Pada cerpen One Summer Night karya Abrose Bierce walaupun ceritanya tergolong singkat akan tetapi pada cerpen ini terdapat beberapa pesan moral yang disampaikan, bertujuan agar pembaca dapat mengambil pembelajaran yang baik dari rangkaian peristiwa cerita tersebut. Dibawah ini merupakan rangkaian pesan moral yang disampaikan dalam cerpen tersebut.
“It was not a night in which any credible witness was likely to be straying about a cemetery, so the three men who were there, digging into the grave of Henry Armstrong, felt reasonably secure.
Two of them were young students from a medical college a few miles away; the third was a gigantic negro known as Jess. For many years Jess had been employed about the cemetery as a man-of-all-work and it was his favourite pleasantry that he knew 'every soul in the place.' From the nature of what he was now doing it was inferable that the place was not so populous as its register may have shown it to be.
Outside the wall, at the part of the grounds farthest from the public road, were a horse and a light wagon, waiting.
The work of excavation was not difficult: the earth with which the grave had been loosely filled a few hours before offered little resistance and was soon thrown out. Removal of the casket from its box was less easy, but it was taken out, for it was a perquisite of Jess, who carefully unscrewed the cover and laid it aside, exposing the body in black trousers and white shirt.” (Bierce, 1893:2)
Berdasarkan rangkaian peristiwa yang ditebalkan diatas, itu merupakan konflik antara Manusia dengan lingkungannya. Pada konflik tersebut dapat kita ambil pesan moral yang melandasi konflik tersebut yaitu, ketika kita diberikan kepercayaan oleh orang lain maka kita harus menjaga kepercayaan itu dengan baik, jangan sampai mengingkari kepercayaan orang lain kepada kita. seperti konflik yang terjadi pada cerita tersebut, sosok jes telah sangat lama diberikan kepercayaan sebagai pegawai pemakaman dia merupakan sosok yang pekerja keras, akan tetapi sosok jes tersebut ingkar pada tanggung jawabnya sehingga ia berprilaku tidak jujur dan menjual mayat-mayat yang telah dikuburkan dipemakaman tempat dia bekerja tersebut.
“The work of excavation was not difficult: the earth with which the grave had been loosely filled a few hours before offered little resistance and was soon thrown out. Removal of the casket from its box was less easy, but it was taken out, for it was a perquisite of Jess, who carefully unscrewed the cover and laid it aside, exposing the body in black trousers and white shirt. At that instant the air sprang to flame, a cracking shock of thunder shook the stunned world and Henry Armstrong tranquilly sat up. With inarticulate cries the men fled in terror, each in a different direction. For nothing on earth could two of them have been persuaded to return. But Jess was of another breed.
In the grey of the morning the two students, pallid and haggard from anxiety and with the terror of their adventure still beating tumultuously in their blood, met at the medical college.
'You saw it?' cried one.
'God! yes -- what are we to do?'"(Bierce, 1893:2)
Peristiwa yang ditebalkan diatas merupakan rangkaian konflik manusia dengan dirinya sendiri. Dimana kedua mahasiswa tersebut berteriak ketakutan karena melihat mayat henry armstrong yang terlihat bangun dan pada waktu itu juga sebuah kilatan cahaya yang menyambar awan disertai bunyi yang menggelegar menciftakan suasana yang menakutkan bagi mereka, sehingga mereka berlarian ketaakutan. Berdasarkan rangkaian pristiwa diatas, pesan moral yang dapat kita ambil dari rangkaian pristiwa diatas ialah, Apabila kita berbuatan tercela atau kejahatan maka akan mendapatkan teguran dari tuhan dan akan berakibat ketakutan dalam diri dan penyesalan dalam hati.
10. Didaktis
Dalam setiap konflik yang muncul dalam cerita akan muncul nilai pesan yang bersifat baik melalui cerita tersebut. Nilai pesan itu akan muncul melalui tiga aspek diantarnya aspek religi, aspek moral dan sosial. Ketiga aspek ini akan biasanya digambarkan melalui beberapa peristiwa dalam cerita. Dalam cerpen One Summer Night karya Ambrose Bierce terdapat aspek pesan yang tersimpan berdasarkan konflik sosial pada cerita tersebut.
Konflik sosial tersebut menggambarkan sebuah aspek moral sosok jess yang menjadi seorang pekerja pemakaman yang pekerja keras. "For many years Jess had been employed about the cemetery as a man-of-all-work and it was his favourite pleasantry that he knew 'every soul in the place. The work of excavation was not difficult: the earth with which the grave had been loosely filled a few hours before offered little resistance and was soon thrown out. Removal of the casket from its box was less easy, but it was taken out, for it was a perquisite of Jess, who carefully unscrewed the cover and laid it aside, exposing the body in black trousers and white shirt. (Bierce 1893:2) "went around to the rear of the building, where they saw a horse, attached to a light wagon, hitched to a gatepost near the door of the dissecting-room. Mechanically they entered the room. On a bench in the obscurity sat the negro Jess. He rose, grinning, all eyes and teeth." (Bierce 1893: 3)
Berdasarkan penggalan cerita dalam cerpen one summer night tersebut dapat diambil nilai pesan yang baik dari peristiwa tersebut, yaitu dibalik sosok jess yang kriminal karena suka menjual mayat yang telah dimakamkan dipemakaman tempat ia bekerja, akan tetapi jess ini tergolong orang yang pekerja keras, tekun dan memiliki jiwa tanggung jawab yang tinggi. sehingga pesan moral yang baik itu muncul dari sosok jess yakni kita harus memiliki pekerja keras, tekun, dan bertanggung jawab.
11. Emosion
Sebuah karya sastra dalam tujuan penciftaannya tersebut ialah agar dapat merangsang emosi seorang pembaca. Berdasarkan rangsangan emosi tersebut maka sebuah karya sastra dapat memunculkan nilai-nilai yang akan menggugah perasaan pembaca, apabila telah dapat menggugah perasaan pembaca maka karya sastra tersebut akan memberikan nilai arti dan pandangan terhadap kehidupan. Rangsangan emosi dalam karya sastra akan muncul berupa rasa: cemas, kaget, menangis, senang, takut, tertawa. Begitu juga pada cerpen karya sastra Ambrose Bierce yang berjudul One Summer Night tahun 1893, didalam karyanya tersebut terdapat beberapa peristiwa yang dapat merangsang emosi seorang pembaca. Dibawah ini merupakan pemaparan gambaran emosi dalam cerpen karya satra Ambrose Bierce tersebut.
Dalam setiap konflik yang muncul dalam cerita akan muncul nilai pesan yang bersifat baik melalui cerita tersebut. Nilai pesan itu akan muncul melalui tiga aspek diantarnya aspek religi, aspek moral dan sosial. Ketiga aspek ini akan biasanya digambarkan melalui beberapa peristiwa dalam cerita. Dalam cerpen One Summer Night karya Ambrose Bierce terdapat aspek pesan yang tersimpan berdasarkan konflik sosial pada cerita tersebut.
Konflik sosial tersebut menggambarkan sebuah aspek moral sosok jess yang menjadi seorang pekerja pemakaman yang pekerja keras. "For many years Jess had been employed about the cemetery as a man-of-all-work and it was his favourite pleasantry that he knew 'every soul in the place. The work of excavation was not difficult: the earth with which the grave had been loosely filled a few hours before offered little resistance and was soon thrown out. Removal of the casket from its box was less easy, but it was taken out, for it was a perquisite of Jess, who carefully unscrewed the cover and laid it aside, exposing the body in black trousers and white shirt. (Bierce 1893:2) "went around to the rear of the building, where they saw a horse, attached to a light wagon, hitched to a gatepost near the door of the dissecting-room. Mechanically they entered the room. On a bench in the obscurity sat the negro Jess. He rose, grinning, all eyes and teeth." (Bierce 1893: 3)
Berdasarkan penggalan cerita dalam cerpen one summer night tersebut dapat diambil nilai pesan yang baik dari peristiwa tersebut, yaitu dibalik sosok jess yang kriminal karena suka menjual mayat yang telah dimakamkan dipemakaman tempat ia bekerja, akan tetapi jess ini tergolong orang yang pekerja keras, tekun dan memiliki jiwa tanggung jawab yang tinggi. sehingga pesan moral yang baik itu muncul dari sosok jess yakni kita harus memiliki pekerja keras, tekun, dan bertanggung jawab.
11. Emosion
Sebuah karya sastra dalam tujuan penciftaannya tersebut ialah agar dapat merangsang emosi seorang pembaca. Berdasarkan rangsangan emosi tersebut maka sebuah karya sastra dapat memunculkan nilai-nilai yang akan menggugah perasaan pembaca, apabila telah dapat menggugah perasaan pembaca maka karya sastra tersebut akan memberikan nilai arti dan pandangan terhadap kehidupan. Rangsangan emosi dalam karya sastra akan muncul berupa rasa: cemas, kaget, menangis, senang, takut, tertawa. Begitu juga pada cerpen karya sastra Ambrose Bierce yang berjudul One Summer Night tahun 1893, didalam karyanya tersebut terdapat beberapa peristiwa yang dapat merangsang emosi seorang pembaca. Dibawah ini merupakan pemaparan gambaran emosi dalam cerpen karya satra Ambrose Bierce tersebut.
- Cemas
Rasa cemas ini digambarkan dalam sebuah pristiwa ketika kedua mahasiswa itu merasa ketakutan karena sebuah teror yang terjadi pada malam hari disebuah pemakaman, dan ketika mereka bertemu di kampus mereka merasa cemas karena teror tersebut.
Berikut merupakan peristiwa cemas yang tergambarkan dalam cerpen:
“pallid and haggard from anxiety and with the terror of their adventure still beating tumultuously in their blood, met at the medical college.
'You saw it?' cried one.
'God! yes -- what are we to do?'” (Bierce, 1893:2)
- Kaget
Peristiwa ini tergambar ketika suara gemuruh akibat teror alam tersebut mereka (kedua mahasiswa) tersebut kaget melihat mayat henry armstrong yang sedang terduduk tenang, dan mereka pun merasa kaget berlarian.
Berikut merupakan peristiwa menangis yang terdapat dalam cerpen:
“At that instant the air sprang to flame, a cracking shock of thunder shook the stunned world and Henry Armstrong tranquilly sat up. With inarticulate cries the men fled in terror, each in a different direction.”(Bierce, 1893: 2)
- Menangis
Peristiwa ini tergambar karena akibat dari rasa cemas yang berlebihan akibat dari sebuah teror yang dialami kedua mahasiswa tersebut, dan ketika mereka bertemu di kampus pagi hari salah seorang dari mereka menangis.
Berikut merupakan peristiwa menangis yang terdapat dalam cerpen:
“'You saw it?' cried one.
'God! yes -- what are we to do?'” (Bierce, 1893: 2)
- Takut
Peristiwa ini tergambar pada situasi ketika malam hari disuatu pemakaman ketika mereka sedang menggali salah satu makam, ketika itu cuaca seperti akan ada badai, cuaca tersebut seakan-akan meneror mereka, dengan kilatan cahaya kedua mahasiswa yang merupakan salah seorang yang ikut dalam penggalian makam tersebut, mengalami situasi teror yang menakutkan bagi diri mereka, sehingga mereka berlarian menjauh dari makam tersebut.
Berikut merupakan peristiwa ketakutan yang terdapat dalam cerpen:
“At that instant the air sprang to flame, a cracking shock of thunder shook the stunned world and Henry Armstrong tranquilly sat up. With inarticulate cries the men fled in terror, each in a different direction.”(Bierce, 1893: 2)
Situasi tersebut memang memiliki kesamaan situasi dengan situasi terkejut yang tergambar diatas, akan tetapi situasi disini berasal dari situasi kaget yang mereka rasakan karena mereka memiliki rasa takut didalam diri mereka.